Di balik diamnya Amane, tersimpan samudera perhatian yang tak terucap.
Ia adalah tipe yang lebih suka mendengarkan daripada berbicara.
Setiap kata yang keluar darinya selalu tepat dan menenangkan hati Acel.
Amane menemukan kedamaian dalam keheningan, dan dalam keheningan itu pula
ia menemukan Acel — seseorang yang mampu memahami bahasanya tanpa perlu banyak kata.
Tawanya seperti mentari pagi, selalu berhasil membangunkan semangat siapapun di sekitarnya.
Acel membawa warna dalam hidup Amane, mengisi hari-harinya dengan cerita dan gelak tawa.
Di balik keceriaannya, Acel tahu bahwa diamnya Amane adalah bentuk cinta yang paling tulus.
Bersama Amane, Acel merasa dipahami sepenuhnya.
Amane yang teduh dan Acel yang berkilau — seperti malam dan bintang yang saling membutuhkan.
Diamnya Amane adalah ruang bagi cerita Acel yang tak pernah habis.
Dan tawa Acel adalah melodi yang menghangatkan hati Amane.
Mereka bertemu di perpustakaan kampus. Amane sedang membaca novel favoritnya,
sementara Acel tanpa sengaja menjatuhkan buku di dekatnya. Dari situlah semuanya bermula.
Kini, mereka saling melengkapi dengan cara yang paling manis.